Membangun Sistem TI Andal untuk Bank Syariah

BSM Membangun Sistem TI Andal untuk Bank SyariahDibanding pemain lainnya, Bank Syariah Mandiri mengklaim sistem TI-nya yang sesuai dengan pola bisnis syariah, lebih maju.  Toh, untuk mengakomodasi pertumbuhan bisnisnya, perombakan sistem inti pun tak terhindarkan.

Tak sedikit orang awam yang beranggapan bisnis perbankan syariah pada dasarnya tak banyak beda dari bisnis perbankan biasa.  Ringkasnya, itu cuma bisnis perbankan umum plus aturan main berbasis syariah, misalnya dalam hal akad (perjanjian) transaksi.  Karena itu, sistem pendukungnya – terutama sistem teknologi informasi (TI) – juga mereka perkirakan tak banyak berbeda dibanding sistem di perbankan umum. Benarkah?

Ternyata pelaku di bisnis perbankan syariah tak setuju dengan anggapan demikian.  Salah satunya Roosita Abdullah, Kepala Divisi TI Bank Syariah Mandiri (BSM).  gSistem perbankan syariah mesti spesifik,h kata eksekutif wanita yang biasa disapa Rosi ini menegaskan.  Alasannya,  jenis produk dan layanannya berbeda dari perbankan konvensional.  Selain itu, sistem ini akan terkait dengan model bisnis dan model transaksinya yang berbasis syariah.  Mulai dari tata cara transaksi, akad, perhitungan bisnis, hingga pembukuannya. Karena itu, menurut Rosi,  membangun sistem TI syariah tidak cukup dengan melakukan tambal sulam ataupun modifikasi dari sistem TI bank konvensional. gJadi, sistem TI syariah seharusnya merupakan hasil dari proses re-engineering TI yang dimulai dari inti bisnisnya,h ia berujar.

Itulah langkah yang sekarang memang dilakukan BSM.  gKami akan melakukan re-engineering total. Ini proyek besar,h ujar Rosi.  gDiharapkan pada Juni 2009 kami sudah bisa running dengan core system baru.h

Lantas, apa yang mendorong BSM harus melakukan penggantian sistem TI? Menurut Rosi, keinginan untuk mengganti sistem itu sudah merupakan kebutuhan mendesak. Pasalnya, sistem yang mereka miliki sekarang sudah tidak mampu mengakomodasi kebutuhan dan pertumbuhan bisnis BSM yang pesat. gBagi kami, pergantian sistem itu sangat urgen, mengingat perkembangan bisnis BSM yang sangat pesat. Juga, karena adanya penerapan aturan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) yang baru,h papar Rosi, sembari mengakui bahwa sistem  yang ada sebelumnya (merupakan hasil konversi), yang sebenarnya sudah mengakomodasi prinsip syariah.

Maklumlah,   BSM merupakan hasil mimikri dari bank konvensional bernama Bank Susila Bhakti (BSB). Tentunya, sistem core banking yang dimiliki BSB adalah sistem konvensional yang dipakai perbankan pada umumnya. Ketika itu, BSB menggunakan aplikasi Alphabet dari Sigma Cipta Caraka, vendor TI lokal.

Nah, sewaktu BSB diakuisisi Bank Mandiri pada 1999 dan diubah sebagai bank syariah dengan nama BSM,  sistem TI-nya tidak  langsung diganti. Alasannya,  ketika itu konversi dari teknologi Alphabet konvensional ke arah sistem syariah masih mudah dilakukan. Maklum, jumlah nasabahnya masih sedikit. Kendati begitu,  modifikasi sistem dan penambahan aplikasi tetap dilakukan, karena model transaksinya sangat berbeda. Misalnya, distribusi bagi hasil ataupun istilah-istilah bisnisnya yang berbeda.  Sebagai contoh,  loan (kredit) diganti pembiayaan dengan skim syariah.

Kala itu, penyesuaian sistem juga dimungkinkan karena BSM melakukan kerja sama berbentuk joint application development (JAD) dengan Sigma. Maksudnya, pihak BSM membuat requirement dan spesifikasi sistem yang dibutuhkan ke arah syariah.  Selanjutnya, Sigma yang melakukan perubahan pada sistemnya sesuai dengan permintaan BSM.  Saat itu, sistem baru hasil penyesuaian itu dinamakan Alphabet seri A. Sekarang namanya menjadi Sigma Syariah. gPerubahan banyak terjadi, terutama dari sisi produk, tapi konversi data tidak terlalu susah. Yang susah hanya di perhitungannya, lantaran berubah. Oleh karena itu, untuk menyiasati kesulitan perhitungan data, perlu ada penyesuaian dan penambahan aplikasi,h Rosi memaparkan.

Dari kerja sama JAD, BSM bisa memperoleh aplikasi bisnis yang dibutuhkan tanpa perlu meresahkan mahalnya biaya investasi.   Bahkan,  berdasarkan perjanjian, pihak BSM akan memperoleh royalti dari setiap penjualan sistem Sigma Syariah itu. Hingga saat ini, Rosi mengklaim, pihaknya sudah 8 kali mendapatkan royalti, karena sudah ada 8 bank ataupun unit syariah yang memakai produk tersebut. gWaktu itu, ketimbang harus membeli produk dari luar yang harganya mahal, kami lebih memilih Alphabet dari Sigma. Selain dinilai cocok dengan kebutuhan bisnis ketika itu, dari sisi harga juga lebih murah, masih di bawah Rp 1 miliar,h ungkapnya.

Rosi berpendapat, idealnya sistem untuk perbankan syariah memang mesti spesifik, karena model penghitungannya sangat berbeda dari bank konvensional. Di bank syariah, pengelola lebih dulu mesti menghitung profit bank. Untuk penghitungan bagi hasil misalnya, di bank konvesional lebih gampang sebab besaran bunga yang diperoleh nasabah sudah bisa dihitung – dari persentase bunga dikalikan dengan saldo. Sementara di perbankan syariah, mesti menghitung dulu profit bank, baru kemudian ditentukan berapa sharing dari masing-masing produk untuk didistribusikan ke nasabah. gPerbedaan paling penting antara syariah dan konvensional, terutama mengenai bagi hasil untuk pembiayaan. Karena menyangkut perhitungan skim. Sampai sekarang masih banyak (bank atau unit syariah) yang mekanisme pembiayaannya belum diakomodasi oleh sistem,h kata Rosi.

Selain melakukan modifikasi sistem, manajemen BSM pun melakukan beberapa pengembangan dari sisi hardware dan jaringan (network).    Antara lain:  upgrading mesin AS/400 dari tipe 310 ke tipe 730 sebagai mesin utama (main computer), dan pembelian AS/400 tipe 720 sebagai mesin back up;   rekonfigurasi infrastruktur jaringan Local Area Network dan Wide Area Network; pembuatan situs web perusahaan; pengembangan sistem online  untuk pembayaran Sistem Komputerisasi Haji Terpadu; pengembangan Network Delivery Service melalui ATM, yang bersinergi dengan jaringan ATM Bank Mandiri; dan penerapan  software Real Time Gross Settlement sebagai fasilitas sistem pembayaran antarbank melalui Bank Indonesia.

Dibandingkan dengan bank atau unit syariah lainnya, Rosi mengklaim, sejatinya pemanfaatan TI di BSM sudah lebih advance. Bahkan, beberapa aplikasi yang digunakan merupakan hasil pengembangan tim TI BSM (in-house development). Sebagai contoh, salah satu layanan yang paling dibanggakan BSM adalah mobile banking. Pasalnya, mobile banking yang dikembangkan sendiri itu sudah berbasis teknologi GPRS, bukan SMS. gKamilah bank pertama di Indonesia yang menggunakan layanan GPRS. karena yang lain masih berbasis SMS,h ucap Rosi bangga.

BSM juga mengembangkan sendiri layanan Internet banking syariah yang disebut BSM Net. Menariknya,  selain menggunakan sistem  switching ATM Xlink, BSM juga memiliki sistem switching sendiri, yang disebut Syam. Nah, dengan memiliki dua sistem switching itu,  BSM bisa bergerak lebih cepat, baik untuk layanan mobile banking maupun Internet banking. Saat ini, kedua sistem switching itu sedang dalam proses integrasi. Tak hanya itu, BSM pun sudah mengembangkan sendiri fasilitas e-Learning – bekerja sama dengan divisi sumber daya insani dalam hal konten. Dan, bekerja sama dengan Berca, BSM mengembangkan sistem bernama Revelius sebagai aplikasi Business Intelligence. Sementara itu, untuk kebutuhan penyediaan data centre, help desk (call centre) dan disaster recovery centre, BSM bekerja sama (sewa) dengan Bank Mandiri.

Toh, seiring dengan pertumbuhan dan tuntutan bisnis, sistem yang ada dianggap tidak bisa lagi mengakomodasi kebutuhan BSM. Saat ini sistem inti BSM berjalan di AS/400. Kelemahannya, sistem inti itu tidak memiliki aplikasi di luar sistem intinya,  seperti e-banking. gArsitektur yang kami inginkan, core system ini harus punya sistem middleware yang menghubungkan e-banking ke core system, atau dari Business Intelligence  ke core system. Dengan begitu, perubahan apa pun yang terjadi tidak akan memengaruhi,h Rosi menjelaskan dengan penuh harap.

Pertumbuhan bisnis BSM bisa dilihat dari statistiknya.  Saat ini, BSM memiliki hampir 1 juta rekening, yang tersebar di 278 gerai, 190 kantor layanan di 24 provinsi, dan didukung lebih dari 2 ribu karyawan. Kini, BSM telah menjelma sebagai salah satu pemain lokal di bisnis perbankan syariah yang berhasil menguasai 27% pasar perbankan syariah di Indonesia – yang saat ini nilainya mencapai Rp29 triliun – atau  2,5% dari total nilai pasar perbankan nasional.

Menurut Rosi, proses  re-engineering menyeluruh perlu dilakukan untuk mendapatkan sistem yang benar-benar sesuai syariah. Dengan begitu, diharapkan bisa mengakomodasi perkembangan syariah. Pasalnya, dibandingkan dengan konvensional, ia menilai perkembangan produk syariah sangat pesat. Jika di perbankan konvensional produk yang ditawarkan relatif sama, di perbankan syariah sistemnya masih bisa dikreasi,  karena ada unsur skim syariahnya. Artinya,  satu bank syariah dengan bank syariah lainnya, bisa berbeda produk. Sebab,  produk masih menjadi suatu keunggulan – ini berbeda dari bank konvensional yang  keunggulannya lebih pada sisi pelayanan.

Sebagai contoh,  di BSM ada produk Gadai. Nah, produk itu belum tentu bisa diterapkan di bank syariah lain. gJadi ada skim-skim syariah yang bisa diterapkan atau tidak, tergantung pada inovasi masing-masing bank untuk bisa menciptakan suatu produk yang comply  dengan suatu peraturan syariah,h Rosi menguraikan.

Di bank syariah kompleksitas bisa terjadi karena bila sebuah bank syariah menghasilkan suatu produk, ia harus mendaftarkan dulu ke Dewan Syariah Nasional untuk mendapatkan izin.  Bila disetujui, barulah minta izin ke Bank Indonesia. (padahal bank konvensional cukup ke Bank Indonesia saja). gPerkembangan yang pesat itu yang tidak bisa diikuti oleh aplikasi yang ada sekarang. Upaya kami untuk mencapai time to market menjadi lambat. Karenanya perlu suatu sistem core banking yang bisa lebih cepat mengikuti perkembangan bisnis BSM,h ujar Rosi menegaskan.

Perlu diketahui, dunia perbankan syariah juga  memasuki babak baru.  Mulai 1 Januari 2008, mereka harus menerapkan PSAK dalam setiap transaksi bisnisnya.  Terlepas dari silang pendapat yang masih terjadi akibat peraturan baru ini, regulasi itu akan meliputi penyajian laporan keuangan syariah, akuntansi murabahah (jual-beli), akuntansi saham, akuntansi isthisna, mudarabah (bagi hasil), dan PSAK tentang akuntansi musyarakah (kemitraan).

Nah, untuk kebutuhan penggantian sistem inti ini, menurut Rosi, sejak beberapa waktu lalu manajemen BSM dan 50 orang anggota tim TI yang dipimpinnya sudah melakukan proses tender untuk mencari sistem inti baru guna menopang kebutuhan bisnis BSM. Saat ini, dari 12 vendor yang ikut tender, baik lokal maupun internasional, tersisa lima vendor.  Nantinya,  salah satu dari produk mereka hendak dipertimbangkan untuk dipakai sebagai sistem inti di BSM. Mereka dinilai lolos seleksi setelah melalui tiga proses, yakni: pengajuan proposal; proof of concept dengan mencoba satu per satu sistem secara live; dan site visit.

Rosi sendiri berharap, sistem inti yang ditawarkan para peserta tender sudah mengikuti konsep Service-Oriented Architecture dan mengakomodasi kebutuhan business knowledge di atasnya. Tujuannya,  kalau ada perubahan bisnis, aplikasinya bisa diubah dengan mudah.  Selain itu, supaya time to market  produk BSM bisa lebih cepat sampai ke pasar. gJadi, sistem itu harus fleksibel, dengan arsitektur yang rapi, tidak tambal sulam seperti sekarang,h katanya merinci syarat sistem baru itu.   gSelama ini kami  banyak membuat proyek ad hoc di luar untuk menutup  kekurangan core system sebelumnya,h ia menambahkan.

Selain akan merombak sistem inti, BSM juga akan melengkapi payment channel di  semua delivery channel-nya (mobile banking, SMS banking, Internet banking, ATM, dan sebagainya).  BSM pun berminat bisa melayani  semua transaksi pembayaran – dengan PLN, Telkom, bayar sekolah, belanja, dan lain sebagainya – secara lengkap, termasuk pembayaran zakat.  Misinya, menyediakan layanan  one stop shopping. Singkatnya, BSM akan terus melakukan pengembangan teknologi untuk mengakomodasi kebutuhan, sekaligus alat bersaing dengan bank lainnya, baik kalangan bank syariah maupun konvensional. gDi BSM, peran TI ini harus sebagai enabler. Dan, ke depan harus menjadi profit centre, bukan lagi cost centre. Saat ini memang masih cost centre, tapi targetnya pada 2010 sudah bisa menjadi profit centre,h papar Rosi.

Menanggapi rencana BSM yang siap mengganti sistem intinya, praktisi TI Djarot Subiantoro menyikapinya secara positif. Menurut pentolan Sigma ini, BSM kini telah menjadi bank yang bisnisnya terus bertumbuh, sehingga perlu ditopang oleh sistem yang lebih komprehensif. Bahkan, Djarot menyarankan supaya BSM bisa mencari sistem yang sesuai dengan pola bank syariah. Terutama pola bagi hasilnya harus dapat mendukung produk-produk syariah sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia,  Dewan Syariah Nasional, dan Majelis Ulama Indonesia.

Tentang BSM

Bank Syariah Mandiri terbentuk setelah Bank Mandiri berhasil mengakuisisi Bank Susila Bhakti pada Juli 1999. BSM mulai beroperasi pada November 1999.

Saat ini, BSM memiliki hampir 1 juta rekening. Didukung lebih dari 2 ribu karyawan; mempunyai 278 gerai; 190 kantor layanan yang tersebar di 24 provinsi di seluruh Indonesia. BSM memiliki 51 ATM Syariah Mandiri, yang terhubung ke jaringan ATM Bersama, Link, dan ATM Prima.

Rata-rata investasi TI setiap tahun sebesar Rp 20 miliar.

 

by a. mohammad bs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*